Pojok MPR-RI

Syarief Hasan Sosialisasikan Empat PIlar di Lantamal VI Makassar

Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono selalu mengatakan bahwa TNI adalah abdi rakyat. TNI selalu independen, TNI tidak boleh berpolitik praktis, dan program alustsista TNI harus diperkuat.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 3 Menit
Wakil Ketua MPR Dr Syarief Hasan, MM, MBA. Foto: Istimewa.
Wakil Ketua MPR Dr Syarief Hasan, MM, MBA. Foto: Istimewa.

MAKASSAR - Empat Pilar MPR merupakan salah satu modal untuk mempertahankan keutuhan, persatuan, dan kesatuan Negara Republik Indonesia. Empat Pilar MPR menjadi modal pokok bagi setiap warga negara Indonesia. Demikian diungkapkan Wakil Ketua MPR Dr. Syarief Hasan, MM, MBA dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gedung Sultan Hasanuddin Lantamal VI Makassar, di Makassar, Kamis petang (21/10/2021).

Menurut Syarief Hasan, salah satu tugas MPR adalah melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR yang terus dilakukan sekalipun masih dalam suasana pandemi Covid-19, "Kami di MPR tidak pernah berhenti untuk mensosialisasikan Empat Pilar MPR, sebab kami tahu dan yakin bahwa Empat Pilar adalah modal untuk mempertahankan keutuhan, persatuan, dan kesatuan negara Republik Indonesia,” kata Syarief Hasan di acara yang dihadiri Komandan Lantamal VI Makassar Laksamana Pertama TNI Dr. Benny Sukandari, SE, MM, CHRMP, Staf Khusus Wakil Ketua MPR Dr. Jafar Hafsah, dan jajaran prajurit Lantamal VI Makassar.

Hukumonline.com

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Lantamal VI Makassar. Foto: Istimewa.

Syarief Hasan memberikan apresiasi kepada prajurit Lantamal VI Makassar atas konsistensi dan komitmennya menjaga kedaulatan NKRI. “Tugas MPR adalah mengobati dan memberikan vaksinasi Empat Pilar MPR kepada mental para prajurit. MPR memperkuat mental prajurit untuk menjaga komitmennya terhadap NKRI,” katanya.

Ia menyebutkan salah satu pilar dari Empat Pilar MPR adalah UUD NRI Tahun 1945 yang merupakan konstitusi Indonesia sebagai pedoman bagi pemimpin dan setiap warga negara dalam menjalankan kewajibannya kepada negara. “Sebagai pemimpin, maka orientasi kepemimpinan harus sesuai dengan UUD NRI Tahun 1945. Kalau dia sebagai warga negara, maka hak dan kewajibannya juga harus sesuai dengan UUD NRI Tahun 1945,” jelas Syarief Hasan.

UUD NRI Tahun 1945, lanjut Syarief Hasan, merupakan landasan yuridis bagi setiap pemimpin dan warga negara Indonesia. “Termasuk para prajurit untuk mematuhi dan berkomitmen terhadap UUD NRI Tahun 1945,” ujarnya.

Hukumonline.com

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Lantamal VI Makassar. Foto: Istimewa.

Menurut Syarief Hasan, TNI tidak boleh berpolitik praktis, tidak boleh ditarik-tarik dalam dunia politik, dan harus benar-benar netral, dan tugasnya menjaga kedaulatan NKRI. “TNI adalah milik rakyat Indonesia. Tapi itu bukan berarti para prajurit tidak boleh mengerti tentang politik,” ujarnya.

Syarief Hasan mengingatkan pesan Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono yang selalu mengatakan bahwa TNI adalah abdi rakyat. TNI selalu independen, TNI tidak boleh berpolitik praktis, dan program alustsista TNI harus diperkuat melalui minimum essential force. “Ke depan anggaran Kementerian Pertahanan bisa mencapai 2 persen dari PDB, atau paling tidak 1,5 persen dari PDB,” ujar Syarief Hasan yang juga anggota Komisi I DPR.

Dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR itu, Syarief Hasan juga menyinggung isu tentang amandemen UUD NRI Tahun 1945. Salah satunya dengan memasukkan GBHN atau Pokok Pokok Haluan Negara (PPHN) dalam konstitusi melalui amandemen. “Wacana ini menjadi diskursus di masyarakat. PPHN perlu dihidupkan kembali agar pembangunan berkelanjutan dan berkesinambungan. Agar posisi PPHN lebih kuat maka perlu dimasukan dalam konstitusi,” urainya.

Namun diskursus amandemen itu berkembang dengan adanya pandangan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode, atau satu periode selama 8 tahun, serta memperkuat kewenangan DPD sejajar dengan DPR. “GBHN atau PPHN memang perlu. Kami di Pimpinan MPR mengambil kesimpulan bahwa untuk melakukan perubahan UUD NRI Tahun 1945, tidak perlu terburu. Kita perlu melakukan kajian lebih mendalam,” sebutnya.

Sementara itu Komandan Lantamal VI Makassar, Laksamana Pertama TNI Dr. Benny Sukandari, mengatakan, bagi TNI Pancasila adalah panduan utama yang menjiwai rasa nasionalisme setiap prajurit, dan sejarah telah membuktikan bahwa TNI selalu hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 dari ancaman, rongrongan, dan gangguan.

Hukumonline.com

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Lantamal VI Makassar. Foto: Istimewa.

“TNI juga senantiasa berperan sentral dalam menjaga dan mempertahankan tegaknya NKRI, sehingga soliditas TNI dan kemanunggalan dengan rakyat, mendukung tegaknya Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Benny Sukandari menambahkan TNI sebagai komponen utama sistem pertahanan negara harus memiliki kesamaan persepsi dan pengetahuan yang memadai terkait Empat Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Sosialisasi dan pencerahan Empat Pilar MPR ini tentu memberi manfaat bagi segenap prajurit Lantamal VI untuk lebih mempertajam wawasan, pengetahuan, dan pemahaman terhadap Empat Pilar MPR RI. Dan yang lebih penting dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.