Utama

DJSN: Ada 7 Capaian dan Tantangan Program JKN

Salah satu capaiannya, kepesertaan JKN mengalami pertumbuhan di seluruh provinsi. Program JKN semakin mendekat dan menjangkau seluruh penduduk Indonesia. Pertumbuhan peserta JKN di tingkat nasional rata-rata 43 persen selama periode 2015-2019.
Oleh:
Ady Thea DA
Bacaan 3 Menit
Layanan BPJS Kesehatan. Foto: Hol
Layanan BPJS Kesehatan. Foto: Hol

Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengalami perkembangan yang positif selama periode 2015-2019. Hal tersebut bisa dilihat, antara lain dari meningkatnya jumlah peserta JKN yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Asih Eka Putri, mengatakan pertumbuhan peserta JKN secara nasional rata-rata 43 persen. Pertumbuhan tertinggi di provinsi Bali, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Tren pertumbuhan itu menunjukan masyarakat semakin percaya sehingga mau menjadi peserta JKN dan pemerintah daerah (pemda) juga berkomitmen untuk mendanai iurannya (untuk peserta penerima bantuan iuran, red).

Tapi, dia melihat pertumbuhan jumlah peserta itu tidak secepat pertumbuhan fasilitas kesehatan (faskes) yang bermitra dengan BPJS Kesehatan. Misalnya rasio pertumbuhan Puskesmas dari 6 Puskesmas per 100 ribu peserta (2015) menjadi 4 Puskesmas per 100 ribu peserta (2019). Ini menunjukan jumlah peserta tumbuh, tapi jumlah Puskesmas relatif stabil. Untuk klinik Pratama rasionya 3 per 100 ribu peserta (2019) dan RS 1 per 100 ribu peserta (2019).

“Faskes tumbuh, tapi tidak secepat pertumbuhan peserta (JKN, red),” kata Asih Eka Putri dalam peluncutan buku Statistik JKN Periode 2015-2019, Senin (18/10/2021). (Baca Juga: Pemerintah Diminta Terus Benahi Tata Kelola Program JKN)

Jika dihitung secara persentase pertumbuhan Puskesmas secara nasional rata-rata 5 persen; klinik Pratama 51 persen; dan RS 18 persen. Meningkatnya jumlah peserta juga selaras dengan naiknya jumlah iuran dengan rerata iuran per kapita meningkat 48 persen.

Akses terhadap layanan JKN juga meningkat untuk rawat jalan tingkat pertama (RJTP) naik 119 persen; rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL) naik 37 persen; dan rawat inap tingkat lanjutan (RITL) 32 persen. Untuk rawat inap tingkat pertama (RITP) cenderung stabil.

Akses, konsumsi dan biaya pelayanan JKN paling banyak untuk membayar klaim penyakit tidak menular. Paling banyak layanan JKN yang diakses untuk penyakit katastropik di RITL, misalnya penyakit jantung hampir 1,4 juta peserta, stroke 360.616 peserta, kanker 335.271 peserta, dan gagal ginjal 165.168 peserta.

Berita Terkait