Terbaru

Memotret Tantangan dan Peran Profesi Notaris pada Era 4.0 dan 5.0

Lomba Penulisan Tesis Magister Kenotariatan yang diselenggarakan INI berupaya memotret profesi notaris dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi era 4.0 dan 5.0.

Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 3 Menit
Informasi Lomba Penulisan Tesis Magister Kenotariatan yang diselenggarakan oleh INI. Foto: istimewa.
Informasi Lomba Penulisan Tesis Magister Kenotariatan yang diselenggarakan oleh INI. Foto: istimewa.

Sebagai bagian dari perkembangan zaman, manusia tidak dapat tutup mata terhadap pesatnya teknologi. Hampir semua lini, berkaitan dengan teknologi. Mulai dari hal mendasar seperti kebutuhan pangan; hingga urusan profesi seperti notaris. Meski begitu, tak semua aspek pekerjaan dapat sepenuhnya terganti. Ada sifat-sifat kemanusiaan yang melekat pada jabatan notaris, dan hal ini tidak dapat dihilangkan.

 

Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat INI, Taufik mengungkapkan, dalam fungsinya melahirkan akta autentik sebagai bukti yang sah di mata hukum, fungsi notaris tidak seperti robot. “Teknologi dapat menjadi terobosan yang membantu pekerjaan notaris, tetapi tidak dapat menggantikan notaris. Di masa pandemi saat ini, misalnya. Banyak orang mengharapkan pertemuan dilakukan secara online, tetapi menghadap itu harus dilakukan offline, karena ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan,” katanya.

 

Adapun Lomba Penulisan Tesis Magister Kenotariatan yang diselenggarakan INI berupaya memotret profesi notaris dalam kaitannya dengan teknologi. Bertema ‘Tantangan serta Peran Notaris dalam Menghadapi Era 4.0 dan 5.0’, kompetisi ini terbuka bagi seluruh mahasiswa Magister Kenotariatan yang minimal, proposalnya sudah disetujui oleh Prodi dan memiliki jadwal ujian tesis untuk tahun akademik 2021-2022.

 

“Kompetisi ini diadakan untuk mencari ide dan gagasan agar notaris dapat menyesuaikan diri di era 4.0 dan 5.0 sesuai perundang-undangan dalam menjalankan jabatannya. Hal ini terkait tujuan dibentuknya INI, yaitu untuk meningkatkan kualitas jabatan notaris, dimulai dari calon-calon atau mahasiswa yang masih menempuh pendidikan. Untuk itu, kami berharap para mahasiswa dapat memberikan kontribusi terhadap hukum kenotariatan,” Taufik menambahkan.

 

Dilaksanakan untuk pertama kalinya, terdapat empat subtema yang dapat dipilih oleh peserta, di antaranya ‘Problematika Notaris di Era 4.0 dan 5.0’; ‘Peran Notaris di Era 4.0 dan 5.0’; ‘Dinamika Perubahan Peraturan Perundang-undangan dengan Ease of Doing Business (EoDB); dan 'Akta notaris dalam Bentuk Elektronik (Pengganti Media Kertas)'. Mekanisme penyeleksiannya sendiri, terbagi atas seleksi administrasi; seleksi proposal berdasarkan tema/subtema; orisinalitas proposal tesis; wawancara tahap awal; serta wawancara final.

 

Ide Segar untuk Notaris di Masa Depan

Taufik menjelaskan, dalam mempersiapkan naskah akademik yang kelak akan digunakan untuk perubahan UU Jabatan Notaris, kompetisi ini diharapkan memuat banyak ide segar terhadap profesi notaris di era teknologi; tanpa mengabaikan asas-asas hukum kenotariatan. Adapun hadiah yang diperoleh, dapat difungsikan sebagai bantuan biaya penelitian mahasiswa yang mengikuti lomba.

 

Ketua Program Studi Notariat Universitas Yarsi, Dr. Endang Purwaningsih, S.H., M.Hum., M.Kn. menyambut baik kompetisi ini. Menurutnya, di era digitalisasi yang serba terotomatisasi, tidak sedikit orang menganggap teknologi artificial intelligence mampu menggantikan banyak profesi. Namun, sama seperti Taufik, ia optimis, notaris tidak akan tergeser karena notaris merupakan manusia atau subjek hukum yang memiliki IQ, EQ, dan mumpuni dalam iptek dan imtaq. Menurutnya, peradaban Madani 5.0 seharusnya dapat melejitkan sisi humanis dan empati notaris dalam pelaksanaan jabatannya.

Berita Terkait

Berita Populer

Berita Terbaru

Lihat Semua