Profil

Edmon Makarim, Sarjana Komputer yang Kini Menjabat Dekan FHUI

Memenuhi panggilan hati untuk kuliah di FHUI, menjadi dosen FHUI, hingga menjadi Dekan FHUI.

Oleh:
Normand Edwin Elnizar
Bacaan 2 Menit
Ilustrasi: HGW
Ilustrasi: HGW

Lulus sebagai siswa di SMA Negeri 21 Jakarta dengan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Edmon Makarim mengaku tidak pernah terpikir untuk kuliah di Fakultas Hukum. Fokus jurusan Edmon—begitu ia biasa disapa—adalah Fisika. Kali pertama ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Edmon ditolak di dua jurusan tempat mendaftar.

 

“Saya ujian SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dua kali, yang pertama nggak dapat. Kedua kalinya dapat di Fakultas Hukum, bukannya Elektro atau Fisika. Saya bingung, ini maksudnya apa?” kenang Edmon saat diwawancarai hukumonline.

 

Cita-cita menjadi mahasiswa jurusan Teknik Elektro atau Ilmu Komputer di Universitas Indonesia kandas di ujian pertama. Tidak menyerah, Edmon bertekad mengikuti ujian pada tahun berikutnya. Penantiannya diisi dengan tetap mengikuti kuliah jurusan Ilmu Komputer di Universitas Gunadarma.

 

Di bulan Ramadhan kala itu, Edmon mengaku ada dorongan untuk menambahkan pilihan baru saat ujian kedua. Selain memilih Teknik Elektro dan Fisika di kali kedua, Edmon mengisi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) sebagai pilihan terakhir. “Itu hati kecil saya bilang untuk pilih juga Hukum,” katanya.

 

Jauh hari sebelum pengumuman, Edmon merasa mendapatkan firasat kuat. Usai melaksanakan shalat tahajud, ia mendapatkan semacam jawaban akan diterima di FHUI. “Bunyi semacam jawaban akan diterima di FH, maunya Elektro, nangis di sajadah,” Edmon menambahkan.

 

Akhirnya pilihan takdir dijalani Edmon dengan menjadi mahasiswa FHUI angkatan 1989. “Tidak mungkin Tuhan memberikan takdir tapi tidak ada manfaatnya. Tuhan tahu apa yang terbaik, akhirnya saya jalani,” katanya. Dengan dukungan orang tua, Edmon terus melanjutkan kuliah komputer. Ia menjalani dua perkuliahan di dua lokasi sekaligus; kampus FHUI di Depok dan kampus Universitas Gunadarma di Salemba, Jakarta.

 

Edmon berpikir untuk menghubungkan ilmu hukum dan komputer saat itu. Konfrensi dunia di tahun 80an bertema jaringan komunikasi global menjadi salah satu inspirasinya. Namun, pada masa itu justru berkembang cemoohan terhadap pengembangan hukum dan teknologi.

Berita Terkait

Berita Populer

Berita Terbaru

Lihat Semua